Charles mengkritisi rantai distribusi MBG yang dinilai panjang dan berpotensi menurunkan mutu makanan.
Ia menjelaskan bahan baku sering diproses sejak malam hari, dimasak dini hari, dan sampai ke sekolah menjelang siang.
Proses panjang ini dinilai rawan kontaminasi bakteri serta menurunkan kualitas gizi yang seharusnya diterima anak.
Charles juga menyinggung dugaan adanya “dapur fiktif” dalam pelaksanaan MBG karena lemahnya pengawasan SOP.
Menurutnya, pemberian tunai lebih efisien dan bisa mengurangi potensi penyalahgunaan dalam program tersebut.
Meski kritik dan usulan bermunculan, pemerintah menegaskan tidak akan mengubah skema awal MBG.
Baca Juga: Polisi Bongkar Pabrik Tembakau Sintetis Rp21 Miliar, 9 Tersangka Ditangkap
Prasetyo menyatakan distribusi makanan siap santap tetap dijalankan demi menjaga kendali gizi anak-anak sekolah.
Ia menambahkan, pemerintah akan terus mengevaluasi agar program ini semakin tepat sasaran dan berjalan lebih baik.
“Kita terus perbaiki, karena tujuannya agar anak-anak tetap mendapatkan makanan bergizi dan sehat,” pungkasnya. ***
Artikel Terkait
IFG Dorong Budaya Aman Berkendara dan Kesadaran Berasuransi
Hadiri Sidang Majelis Umum PBB, Presiden Prabowo Dijadwalkan Beri Pidato
1,9 Juta Penerima Dicoret, Begini Cara Cek Bansos PKH dan BPNT 2025