• Jelajahi

    Copyright © Kabar24.id
    media news network

    Iklan

    Iklan Beranda

    Mantan Menkes Siti Fadilah Supari Beberkan Efek Jangka Panjang Wolbachia

    22 November 2023, 14.41 WIB
    Dalam menekan penyebaran penyakit Demam Berdarah Dengue atau DBD, Kementerian Kesehatan menerapkan inovasi teknologi Wolbachia. 

    Wolbachia merupakan bakteri yang hidup sebagai parasit pada hewan di mana dalam menekan DBD, Wolbachia ini diyakini mampu membunuh virus Dengue yang menyebabkan DBD. 

    Wolbachia ini kemudian dikontaminasikan ke nyamuk yang nantinya akan membunuh nyamuk Aedes Aegypti. Untuk itu pemerintah melalui Kementerian kesehatan akan menyebar nyamuk yang telah ber-Wolbachia ke berbagai daerah di Tanah Air. 

    Kemudian, Siti Fadilah, mantan Menteri Kesehatan Indonesia, kembali menyuarakan tentang program penyebaran nyamuk Wolbachia di Indonesia. Hal tersebut ia sampaikan pada unggahan video di channel YouTube miliknya, Siti Fadilah Supari Channel, dan potongan pada akun TikToknya @siti_fadilah_supari. 

    “Waktu itu saya tiba-tiba didatangi para ahli-ahli nyamuk, ahli lingkungan dan mereka tidak terima dengan penyebaran nyamuk tersebut, mereka bertanya apakah itu nyamuk aedes aegypti yang direkayasa genetika itu berasal dari tempat kita, kayaknya iya,” tutur Siti Fadilah. 

    “Karena pada tahun 2011 lalu ada seorang yang sangat terkenal di dunia , villa tropis yang terkenal di dunia bertamu di Jogja dan berburu nyamuk, setelah itu nyamuk dibawa ke Kolombia dan mereka membuat suatu peternakan nyamuk di Kolombia. Nah dari sana itulah yang dilakukan penelitian dengan para ahli di Gadjah Mada,” lanjutnya menceritakan. 

    Siti Fadilah juga menjelaskan jika nyamuk wolbachia sudah direkayasa genetika sehingga tidak akan bisa lagi membawa virus demam berdarah. “Dengan klaim dari mereka jika nyamuk aedes aegypti sudah direkayasa genetika dan disuntikkan wolbachia artinya sudah tidak bisa lagi membawa virus demam berdarah dan tidak bisa membawa virus zika,” beber Siti. 

    Akan tetapi program tersebut justru menuai protes dari kalangan ahli terkait dengan efek jangka panjang apa yang akan ditimbulkan nanti. 

    “Tapi para ahli lingkungan, ahli ekologi, ahli virus, dan ahli nyamuk pada protes pada saya, ibu apakah sudah tahu efek jangka panjangnya, tapi saya jawab belum,” ujar mantan Menkes tersebut. 

    Lebih lanjut Siti Fadilah mengatakan, “Karena setiap penelitian dengan nyenggol-nyenggol genetik itu erornya tidak bisa kita ketahui sekarang juga, baru bisa kita ketahui antara 2 dan 10 tahun yang akan datang.” 
    @siti_fadilah_supari Selama beberapa hari terakhir ini, banyak sekali yang bertanya kepada saya tentang penyebaran nyamuk wolbachia yang kontroversial itu, dalam konten saya kali ini saya ingin mengajak sahabat semua untuk berpikir secara logis dan obyektif, berbahayakah nyamuk wolbachia dan apa manfaatnya bagi masyarakat? smoga VT ini bisa menjawab semua pertanyaan dan keresahan, jangan lupa like dan komennya, dan bagikan sebanyak banyaknya agar menjadi kesadaran kritis masyarakat akan kebijakan pemerintah yang sedang atau akan dijalankan #sitifadilahsupari #nyamuk ♬ suara asli - Siti Fadilah Supari

    Sedangkan para ahli ekologi juga memiliki kekhawatiran besar terkait dampak dari program nyamuk wolbachia tersebut. 

    “Kemudian yang ahli ekologi mengatakan bahwa nyamuk adalah bagian daripada perantaian ekologi yang sudah berlangsung di dunia ini, dan biasanya Tuhan menciptakan itu seimbang,” tutur Siti Fadilah saat menyampaikan protes yang ia terima. 

    “Kenapa sekarang nyamuk itu akan dimusnahkan dengan cara seperti itu dan direkayasa genetika seperti itu, justru para ekolog takut banget jika itu akan berakibat fatal pada tahun-tahun berikutnya nanti,” imbuhnya lagi. 

    Siti Fadilah pribadi, mengakui tidak tahu efek dari penyebaran nyamuk wolbachia ini akan seperti apa nantinya. 

    “Saya tidak mengerti bagaimana efek yang sebetulnya akan terjadi, tapi yang jelas kalau menurut data penelitian itu dia akan menurunkan angka kematian atau angka kesakitan dari demam berdarah, cikungunya, maupun zika, tetapi nampaknya belum ada hasil penelitian lainnya yang diekspos tentang akibat ekologi, akibat jangka panjang karena adanya gen drive, karena perubahan ekologi di sekitar kita nah itu belum ada,” jelas Siti. (viva.co.id)
    Komentar

    Tampilkan

    Terkini