Umroh3

Baliho Hendy Sebut Kemiskinan di Jember, BPS Rilis Data

JEMBER - Badan Pusat Statistik (BPS) Jember merilis data mengenai kemiskinan di Jember. Data yang disampaikan ternyata data lama yang sebelumnya sudah disuguhkan ke media. Ada dugaan rilis data "lama" itu berkaitan dengan Baliho Bacabup Jember Hendy Siswanto yang menyebut-nyebut tentang kemiskinan di Jember.

 

"Sehubungan dengan Acara 'Memaknai Angka Kemiskinan Makro Kabupaten Jember' kami bermaksud mengundang saudara untuk hadir mengikuti acara dimaksud," tulis Kepala BPS Jember, Arif Joko Sutejo dalam undangan di sejumlah grup WA, Selasa (22/10/2019).

 

Saat paparan, ternyata Arif menyampaikan data lama, yakni tentang angka kemiskinan Jember 2018 yang pernah dirilis BPS pada Januari 2019 lalu.

 

Banyak diantara belasan wartawan mempertanyakan maksud dan tujuan Arif merilis ulang data tersebut.

 

Baca juga: Delapan Bacabup Sepakat Saling Dukung Melawan Petahana

 

Apakah ada kekeliruan pemberitaan setelah 10 bulan berlalu? Arif menampiknya. 

 

"Tidak. Tidak ada. Hanya mungkin ada wartawan yang mau menulis berita BPS lagi," jawabnya yang spontan disambut riuh awak media.

 

Jawaban Arif disambut beragam pertanyaan. Salah satunya apakah rilis BPS kali ini respon terhadap baliho Bacabup Hendy Siswanto bertuliskan 'Kabupaten Jember Termiskin ke-2 di Jawa Timur'?

Baliho itu terpasang di papan billboard berukuran besar yang terletak di simpang empat bundaran DPRD Jember.

 

Arif kembali menyangkal. "Tulisan itu tidak salah. Tapi kami ingin melengkapi. Kami tidak pernah membuat narasi demikian," kilahnya.

 

Namun anehnya, ketika diminta mempertegas, lagi-lagi ia menolak kalimat itu dimaksudkan untuk melengkapi pesan pada baliho yang ditulis Hendy Siswanto. 

 

Arif mengakui bahwa Jember menempati urutan kedua se-Jawa Timur dari sisi jumlah penduduk miskin setelah Kabupaten Malang. 

 

Baca juga: Hendy Siswanto: Saya Satu-satunya yang Bisa Jadi Bupati Jember

 

"Sebanyak 243,42 ribu jiwa penduduk miskin atau 9,98 persen dari total 2,4 juta jiwa penduduk Jember," sergahnya.

 

Saat mengakhiri rilisnya, Arif mengemukakan kendati persentase kemiskinan cukup rendah, namun ada masalah lebih kronis.

 

Yakni, tingginya kenaikan angka indeks kedalaman kemiskinan yang mencapai 1,45 poin. Serta indeks keparahan naik dari 0,28 menjadi 0,33 poin di 2018.

 

"Banyak orang miskin yang semakin sulit melewati garis kemiskinan karena jaraknya yang jauh. Juga perbedaan sangat mencolok antara orang miskin yang satu dengan yang miskin lainnya," pungkas Arif.

Reporter : Sutrisno
Editor : Yakub

Komentar Anda