Umroh3

Muhammad Amin, Pencipta Konverter Kit ABG

BANYUWANGI – Penggunaan Konverter Kit untuk mengganti penggunaan bahan bakar minyak pada mesin kapal nelayan kecil dengan menggunakan bahan bakar gas dinilai sangat ekonomis bagi nelayan kecil. Kementerian Koordinator (Kemenko) Kemaritiman RI terus menggalakkan penggunaan Konverter Kit tersebut.

Konverter Kit sendiri merupakan rangkaian komponen khusus untuk mengkonversi atau mengubah pemakaian bahan bakar minyak (BBM) ke bahan bakar gas (BBG) yang dimasukkan atau diinjeksikan ke dalam ruang bahan bakar pada silinder mesin kendaraan bermotor. 

Deputi Koordinator SDA dan Jasa Kemenko Kemaritiman RI, Agung Kuswandono menyampaikan, selama ini yang menjadi beban operasional terbesar bagi para nelayan kecil ialah biaya bahan bakar untuk melaut. Untuk mengatasi persoalan tersebut, kini sudah ada teknologi terbaru produk dalam negeri yang mampu mengkonversi penggunaan bahan bakar minyak ke gas.

 

 

Baca Juga: Kemenpora Apresiasi Pemuda Pencipta 5 Aplikasi Android

 

 

“Saya sengaja mengajak Pak Amin, pencipta Konverter Kit yang mampu mengkonversi penggunaan bahan bakar minyak untuk mesin kapal nelayan dengan menggunakan bahan bakar gas,” kata Agung saat memberi sambutan saat rapat koordinasi dan peninjauan lapangan Kemenko Kemaritiman di Aston Banyuwangi Hotel, Rabu (07/08). 

Selain hemat energy, penggunaan Konverter Kit ini dinilai sangat ramah lingkungan. Agung mengajak kepada pemerintah daerah yang memiliki potensi maritim luar biasa, untuk mencanangkan penggunaan Konverter Kit dalam rangka mensejahterakan nelayan.

“Ini ramah lingkungan karena menggunakan gas. Siapa tahu di Banyuwangi juga membutuhkan hal yang sama, mengingat potensi perikanan dan jumlah nelayan di sini juga sangat besar,” ujarnya.

Pencipta Konverter Kit ABG Muhammad Amin menceritakan, awal mula dirinya menciptakan converter kit ini karena diminta oleh Bupati Kuburaya untuk membantu perekonomian masyarakat nelayan setempat. 

“Di daerah kami, Kuburaya nelayan kecil itu masuk stratra social lebih rendah SDM nya dan ekonominya susah. Saat itu, Tahun 2010 Bupati meminta kami bagaimana membantu meningkatkan kesejahteraan nelayan,” ungkapnya.


Menurut Amin, biaya operasional terbesar yang dikeluarkan nelayan saat melaut ialah biaya untuk bahan bakar. Akhirnya kita mencari cara untuk bisa menekan biaya tersebut dengan cara mencari alternative bahan bakar lainnya.

“Yang terdekat dengan bensin adalah gas LPG 3 kilogram. Akhirnya, kami berhasil menciptakan Konverter Kit yakni mengganti penggunaan minyak dengan gas dan dilaunching sendiri secara langsung oleh Bupati Kuburaya pada Tahun 2012,” katanya.

 

 

Baca Juga: Gandeng Kedutaan Besar Amerika, Unej Gelar Seminar Internasional Bioteknologi

 

 

Teknologi ini rupanya mendapat perhatian khusus dari pemerintah pusat. Atas support dari Kementerian ESDM dan Kemenko Kemaritiman, akhirnya pihaknya berhasil menciptakan Konverter Kit ABG yang diproduksi khusus untuk membantu nelayan kecil. “Ini sudah generasi ke 9 dan sekarang sudah SNI serta memiliki hak paten,” ungkapnya.

Kelebihan dari Konverter Kit ini, Kata Amin, terletak pada efisiensi penggunaan bahan bakar. Satu tabung 3 kg LPG setera dengan penggunaan 10 hingga 15 liter bahan bakar minyak. Artinya, cost yang dikeluarkan nelayan untuk kebutuhan bahan bakar bisa lebih hemat hingga 70 persen.

“Kalau harga bensin 7 ribu perliter, maka untuk 10 liternya nelayan harus mengeluarkan uang Rp 70 ribu. Tapi dengan converter Kit, nelayan cukup mengeluarkan biaya 18 ribu hingga 22 ribu untuk satu tabung gas LPG 3 kilogram dengan jangkauan jarak yang sama dengan penggunaan bensin 10 liter. Artinya, sebelum melaut pun nelayan sudah untung karena bisa memangkas biaya bahan bakar perahunya,” ungkapnya. 

Selain itu, kelebihan dari Konverter Kit ini tanpa harus merubah komponen mesin motor perahu nelayan. Sejauh ini, kata Amin pihaknya tidak memproduksi Konverter Kit untuk kepentingan komersil. Konverter Kit yang diciptakannya murni untuk memenuhi permintaan dari pemerintah guna membantu kesejahteraan masyarakat nelayan. 

“Jadi tidak kita jual, karena nial awal kita membantu nelayan. Ini lebih pada pengadaan di pemerintahan. Jadi ketika pemerintah menghibahkannya ke masyarakat nelayan secara gratis,” tutupnya.

BERITA TERKINI:

 

Reporter : Rozik
Editor : Muzakki

Komentar Anda