Umroh3

Unej Ajak Masyarakat Bijak Pakai Hand Sanitizer

JEMBER - Berkembangnya Covid-19 membuat masyarakat ikut memburu Hand Sanitizer. Bahkan, Hand sanitizer ini kini langka di pasaran. Selain itu, banyak yang berusaha membuatnya sendiri. Hal ini tidak sepenuhnya benar dan baik. Oleh karena itu, Fakultas Farmasi Unej mengajak masyarakat untuk menggunakan hand sanitizer. 
 
 
“Masyarakat harus bijak dalam menggunakan Hand Sanitizer sebab jika dipakai terlalu banyak juga tidak baik," terang Sholihatus Sallama, teknisi laboran di Laboratorium Farmasetika Fakultas Farmasi Universitas Jember. Dirinya mencontohkan bagi yang kebetulan memiliki alergi akan membuat gatal dan iritasi.
 
 
Dia bahkan juga Menjelaskan sebenarnya pemakaian Hand Sanitizer diperlukan saat masyarakat sedang melakukan perjalanan atau di kondisi dimana air susah didapat. Mencuci tangan dengan sabun dan air mengalir lebih disarankan. "Jika mencuci tangan dengan sabun dan air masih dapat dilakukan, maka sebaiknya cuci tangan dengan sabun dan dengan air mengalir,” tutur Sholihatus Sallama ditemui tengah sibuk membuat Hand Sanitizer guna keperluan internal Kampus Tegalboto (24/03/2020).
 
 
 
Banyaknya masyarakat yang berburu Hand Sanitizer membuat harganya melonjak, bahkan bahan pembuatan Hand Sanitizer seperti alkohol pun turut melambung. Laboran senior ini juga memperingatkan masyarakat yang membuat Hand Sanitizer dalam jumlah banyak untuk berhati-hati menjaga diri.
 
 
Pasalnya, bahan baku berupa alkohol dapat berefek negatif bagi kesehatan. “Uap alkohol yang terhirup dalam jumlah banyak beresiko bagi kesehatan,” imbuhnya. Untuk diketahui, Fakultas Farmasi Universitas Jember memproduksi Hand Sanitizer, namun saat ini hanya digunakan untuk memenuhi kebutuhan internal kampus. 
 
 
Juga untuk beberapa mitra Universitas Jember seperti pihak perbankan yang membuka kantor layanan di areal kampus. “Kami mengalami kesulitan mendapatkan bahan baku, alkohol yang awalnya seliter seharga Rp 40-50 ribu kini menjadi Rp 125-150 ribu. Itu pun kadang barangnya tidak ada, atau ada pembatasan pembelian," terangnya. 
 
 
Kesulitan lainnya yakni belum lagi botol spray yang juga melonjak. "Ukuran 60 mililiter yang awalnya seharga Rp 3 ribu menjadi 7 ribu rupiah,” keluh Sholihatus Sallama.
 
Reporter : Isriadi
Editor : Ardi Wardoyo

Komentar Anda