iklanberita970x250

Tantangan Eduwisata Agronursing Burno, Antara Kemajuan Daerah dan Tantangan Kesadaran Masyarakat

Oleh: Ahmad Fatkhul Hadi Muzakki


Dunia ekonomi dan wisata di Kabupaten Lumajang semakin menggeliat. Selama ini Lumajang memiliki segudang potensi wisata, khususnya wisata alam. Namun, selama ini dirasa masih kurang tergarap serius. Kini pemerintah Kabupaten Lumajang tengah berkampanye serius menggarap berbagai potensi wisata di kabupaten buah pisang tersebut. Berbagai upaya dengan bersolek dilakukan untuk menggenjot dunia pariwisatanya.


Niat baik pemkab Lumajang inipun mulai membuat pemerintah pusat melirik dan ikut serta memoles serta menggarap potensi pariwisata di Lumajang, utamanya yang ada di kaki gunung Semeru. Ya, di gunung dengan puncak tertinggi di Pulau Jawa ini terhampar banyak sekali potensi wisata yang sangat menawan. Bukan hanya sekedar pemandangan yang sangat menakjubkan, tetapi juga menawarkan tantangan yang memacu adrenaline untuk menikmatinya. Jika terealisasi, bukan tidak mungkin akan ada ribuan wisatawan lokal dan mancanegara yang akan datang mengunjungi kabupaten Lumajang.


Potensi pariwisata yang sedang dipugar ini diharapkan tidak hanya menjadi sebuah menara gading istimewa bagi masyarakat sekitar dan dikagumi oleh orang luar, namun justru menimbulkan ironi, yakni adanya jurang lebar yang menganga antara masyarakat sekitar dengan wisata. Diperlukan sebuah semangat bersama dari semua stakeholder agar masyarakat sekitar kaki Gunung Semeru ini ikut menikmati manisnya ‘madu’ dari dunia pariwisata di Lumajang yang mulai bangun dari tidur lelapnya.


Semangat inipun ditangkap oleh Universitas Jember. Melalui Program Studi Diploma 3 Keperawatan Fakultas Keperawatan Universitas Jember Kampus Lumajang yakni Kelompok Riset (KeRis) Disaster Emergency and Nursing Studies (Densus), turut membina Desa Burno, Kecamatan Senduro, Kabupaten Lumajang dengan segala potensinya untuk menjadi Desa Eduwisata berbasis Agronursing melalui Sekolah Desa 4.0. Sekolah desa ini dinamakan Anoman Burno ‘Nararya Kirana’, sesuai nama tokoh legendaris asal Lumajang. Sedangkan Anoman singkatan dari Agronursing for Tourism and Education.


Tentu, program milik Universitas Jember ini bukan hanya sekedar ikut nimbrung ingin mencicipi program pemerintah pusat yang sedang menggarap pintu masuk ke Gunung Semeru. Pasalnya, Kecamatan Senduro, merupakan kecamatan yang menjadi pintu masuk menuju ke Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS) melalui Kabupaten Lumajang. Ada mimpi yang jauh lebih besar dari kampus perjuangan ini.


Sejak awal, Anggia Astuti, koordinator Sekolah Desa pada awal Oktober 2019 lalu menyampaikan kepada sejumlah media bahwa Burno ini layaknya bidadari yang sedang tertidur. Bagaimana tidak, sebagai desa jalan masuk ke TNBTS di Lumajang ini memiliki profil yang komplit. Topografi daerah yang berada di ketinggian 900 Mdpl (meter diatas permukaan laut), Desa Burno memang cocok sebagai lokasi tetirah alias wisata. Selain hawa yang sejuk, juga ditopang dengan potensi wisata alam dengan keindahannya yang tiada tara. Seperti Wana Wisata Siti Sundari, air terjun Watu Silo hingga tracking ke Ranu Pane hingga puncak Semeru. 


Belum lagi, ditopang dengan potensi lain yang menjadi keunggulan masyarakat sekitar, yakni adanya potensi menikmati kesegaran susu kambing Senduro, susu sapi perah sambil ngemil keripik pisang Mas Kirana hingga layanan bagi pendaki gunung Semeru. Semua potensi ini memang sudah lama dimiliki Burno, namun belum dikemas dengan potret yang menggemaskan untuk ditawarkan kepada wisatawan hingga membawa gaung desa tersebut membahana ke luar daerah. 


Universitas Jember Kampus Lumajang hadir dengan mengembangkan konsep Eduwisata berbasis agronursing. Unej melakukan pemberdayaan masyarakat, agar bisa ‘menjual’ atau mengenalkan dan memberikan penjelasan potensi desanya kepada wisatawan mengenai lokasi wisata dan produk yang dihasilkan desa. 


Bagi Unej, ini adalah bentuk perjuangan. Bagaimana tidak, KeRis Densus Universitas Jember Kampus Lumajang mulai membina masyarakat setempat setiap minggu sejak bulan September lalu. Dosen dan mahasiswa bergantian memberikan materi di kelas dan mendampingi praktik para warga desa hingga nanti dua bulan ke depan. Masyarakat diajak ikut serta memecahkan permasalahan yang dihadapi petani dan peternak, yang selama ini tidak bisa diselesaikan secara individu. Bukan hanya sekedar pertanian biasa, namun tercipta kawasan wisata yang sehat, higienis, aman, dan nyaman. 


Agronursing adalah penatalaksanaan manajemen pelayanan keperawatan  dan asuhan keperawatan, dalam ruang lingkup pertanian, perkebunan, perikanan, peternakan serta agroindustri. Diantaranya tentang pengenalan dan pemahaman akan pentingnya Kesehatan dan Keselamatan Kerja atau K3 di area pertanian dan peternakan. Warga Desa Burno dilatih menggunakan alat pelindung diri saat bekerja di lahan dan kandang ternak, termasuk praktik mencuci tangan yang benar. 


Menurut Suhari, Ketua KeRis DenSus prosedur inilah yang juga nantinya akan diterapkan kepada wisatawan yang berkunjung ke Desa Burno. Terobosan ini cukup visioner untuk bisa memajukan masyarakat. Apalagi, selama ini memang belum ada program yang terintegrasi yang mampu mensinergikan semua potensi yang dimiliki oleh desa tersebut. Warga Desa Burno sepakat menampilkan konsep eduwisata di desanya. Artinya wisatawan nantinya tidak hanya menikmati keindahan alam saja, tapi juga diajak bertani dan berternak. 


Wisatawan akan disodori berbagai paket wisata. Misalnya Paket Wisata Pisang, dimana wisatawan akan diajak belajar bagaimana budidaya pisang Mas Kirana yang khas Lumajang. Dari menanam hingga memanen, termasuk belajar pembuatan kripik pisang. Bahkan mengajak wisatawan memanen kopi. Paket wisata lain yang ditawarkan adalah Wisata Kambing dan Wisata Sapi. Wisatawan diajak belajar memelihara kambing Senduro atau sapi perah hingga berkesempatan memerah susunya. Harga susu kambing Senduro ini dua kali lebih mahal dari susu sapi perah, karena khasiatnya lebih banyak untuk kesehatan pencernaan hingga kebugaran tubuh. 


Universitas Jember Kampus Lumajang dengan agronursing-nya sangat berperan disini. Kandang kambing etawa Senduro dijaga betul kebersihannya, begitu pula dengan proses pemerahan susu kambingnya. Unej mengajarkan memerah susu yang hygienis dan sesuai aturan kesehatan, seperti prosedur cuci tangan, pemakaian sarung tangan dan celemek hingga proses pengolahan susu pasca pemerahan. Jika proses pemeliharaan kambing hingga pemerahan susu bersih dan higienis maka diharapkan bisa menarik wisatawan untuk datang. Ada pula rencana kerjasama dengan para peneliti lain di Universitas Jember untuk versifikasi produk susu kambing seperti menjadi keju dan bahan masker kecantikan. 


Prospek susu kambing Desa Burno cukup menjanjikan karena ada 30 peternak yang mengusahakan kambing Senduro. Selama ini, produk berupa susu segar ini dipasarkan langsung ke pengepul. Adanya Sekolah Desa binaan ini diharapkan dapat membuat susu kambing di Senduro memiliki nilai tambah ekonomis yang dapat lebih menguntungkan bagi para petani. Dengan harapan akan semakin memberikan kesejahteraan bagi petani. 


Lain lagi dengan paket Wisata Pisang. Seperti yang diketahui, Lumajang menjadi sentra penghasil pisang di Jawa Timur, bahkan pisang Mas Kirana sudah tersohor hingga disajikan di Istana Kepresidenan. Mulai dari bibit pisang Mas Kirana yang siap tanam hingga pisang paska panen dan siap dikonsumsi pun bisa menjadi wisata tersendiri. Penanaman pisang di kebun ini memakai sistem tumpang sari, jadi ada tanaman kopi di sela-sela tanaman pisang.


Pisang Mas Kirana yang ditanam secara organik dan sudah mendapatkan sertifikasi dari Dinas Pertanian Kabupaten Lumajang ini menggunakan kotoran kambing dan sapi milik peternak sebagai pupuk. Potensi pisang Mas Kirana bukan main-main, pasalnya Desa Burno bisa menghasilkan 3,5 ton pisang Mas Kirana yang dikirimkan ke berbagai daerah melalui mitra.  Pisang jenis ini sangat disukai karena lebih manis dari melon serta memiliki tekstur padat dan tentu saja manis, apalagi baru dipanen langsung dari kebun. 


Pisang panenan ini dibagi menjadi tiga kelompok besar yakni minimal 8 ons masuk dalam grade A, sementara yang berbobot kurang dari 8 ons masuk kategori grade B. Untuk pisang yang bentuknya kurang baik akan masuk kelompok grade C yang biasanya jadi bahan baku kripik pisang. Jadi tidak ada yang terbuang, termasuk kulit pisang yang biasanya dimanfaatkan oleh petani untuk pakan ternak. 


Uniknya, ternyata ada cara tersendiri dalam memanen pisang Mas Kirana yang bisa menarik wisatawan. Petani menggunakan alat yang biasa disebut cecek. Alat karya warga Desa Burno ini mirip spatula untuk memasak namun dengan ujung melengkung yang tajam dengan pegangan yang disesuaikan. “Dengan alat ini proses pemotongan pisang dari tandannya lebih mudah, tinggal membersihkan dengan air dan siap dikemas dalam karton,” jelas Mujasa, petani setempat.


Dari sisi alam, ada Wana Wisata Siti Sundari yang tak jauh dari pusat Desa Burno. Wana Wisata Siti Sundari sendiri adalah lahan terbuka luas dipagari pohon-pohon besar khas vegetasi pegunungan. Hawanya sejuk dan menenangkan karena angin berhembus begitu mempesona dengan imbuhan pemandangan air terjun Watu Silo. Sayangnya, belum ada fasilitas pendukung sehingga sulit menuju lokasi air terjun Watu Silo. Saat ini kawasan ini dikembangkan oleh warga Desa Burno yang tergabung dalam Lembaga Masyarakat Desa Hutan (LMDH) Wono Lestari. Wana Wisata Siti Sundari memang baru dirintis sehingga masih perlu perbaikan. Sayang jika spot wisata yang indah ini tidak digarap dengan maksimal. 


KeRis Densus Universitas Jember Kampus Lumajang memang memiliki rencana mengembangkan Wana Wisata Siti Sundari. Salah satu yang akan dilakukan bekerjasama dengan LP2M Universitas Jember agar ada penempatan mahasiswa peserta program KKN tematik desa wisata dan mengajak para peneliti Universitas Jember yang kompeten di bidang pariwisata untuk menyusun blue print pengembangannya. 


Di lokasi tersebut Universitas Jember juga mendirikan Nursing Corner, yakni pos kecil tak jauh dari kompleks Wana Wisata Siti Sundari yang lengkap dengan beberapa alat kesehatan yang disediakan. Fasilitas ini dibangun bersama warga Desa Burno bagi pendaki yang akan naik ke Gunung Semeru. Pendirian Nursing Corner tak lepas dari lokasinya yang menjadi perlintasan para pendaki. Biasanya banyak pendaki yang mulai melakukan pendakian dari Desa Burno. Dengan adanya Nursing Corner, maka para pendaki bisa mengecek kondisi kesehatan mereka.


Tersedianya informasi kesehatan penting lainnya juga bermanfaat bagi para pendaki gunung. Misalnya saja kadar oksigen dalam darah yang normal bagi seseorang yang akan naik gunung harus minimal ada di angka 96. Dengan Nursing Corner maka para pendaki dapat memeriksakan diri secara mandiri, dengan demikian, setidaknya bisa meminimalkan resiko terjadinya pendaki gunung yang sakit selama mendaki. Nantinya, penempatan Nursing Corner menyesuaikan dengan jalur pendakian dan dijaga oleh warga Desa Burno sendiri.


Tentu saja butuh dukungan semua stakeholder agar edutourism yang berbasis agronursing di Desa Burno bisa terwujud. Misalnya dukungan dari pemerintah daerah melalui Bappeda, Dinas Pertanian, Dinas Kehutanan, Dinas Pariwisata, dan segenap masyarakat Desa Burno. Apalagi, targetnya tahun ini semua persiapan sudah beres sehingga tahun depan Desa Burno sudah siap menerima wisatawan. 


Usaha membina Desa Burno melalui Sekolah Desa Anoman Burno mendapatkan apresiasi dari Indah Amperawati. Apalagi, Bunda Indah, panggilan akrab wakil bupati Lumajang ini menuturkan jika sebenarnya sudah banyak pihak yang melirik Desa Burno. Diantaranya Desa Burno sudah ditetapkan sebagai Desa Wana Wiyata oleh Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, desa yang mampu menjaga, merawat dan memanfaatkan potensi hutan. 


Tidak heran jika banyak pihak yang tertarik belajar pemanfaatan hutan ke Desa Burno. “Bahkan Ibu Rini Soewandi, mantan Menteri BUMN saat itu terkesan dengan Desa Burno hingga berkunjung dua kali ke Desa Burno,” terang Indah saat bertemu Rektor Unej M. Hasan pertengahan November 2019 lalu. Oleh karena itu, Pemkab Lumajang pun sangat senang dan mendukung kiprah Universitas Jember Kampus Lumajang berperan serta mendampingi warga Desa Burno dengan berbagai programnya. 


Bak Gayung bersambut. Moh. Hasan, Rektor Unej pun mengusulkan agar pengembangan Desa Burno sebagai Desa Eduwisata berbasis Agronursing diintegrasikan dengan program-program pengabdian kepada masyarakat yang sudah dijalankan oleh Universitas Jember melalui program Universitas Jember Membangun Desa. Apalagi, saat ini Unej memiliki desa binaan jumlahnya mencapai 300 desa di Besuki Raya termasuk diantaranya 20 desa di Lumajang.


Desa Burno juga akan dimasukkan dalam Desa Binaan. Harapannya, pengembangan Desa Burno akan lebih maju sebab akan menjadi lokasi penelitian dan pengabdian masyarakat para dosen. Termasuk bisa masuk dalam daftar desa penerima mahasiswa peserta program Kuliah Kerja Nyata (KKN) tematik Universitas Jember sehingga potensi yang ada bisa dipromosikan kepada khalayak luas melalui kreativitas mahasiswa. 


“Salah satu succes story ada di Desa Bulu Cindea, Kabupaten Pangkajene, Kepulauan Provinsi Sulawesi Selatan yang awalnya tidak dikenal kini menjadi destinasi wisata gara-gara KKN tematik yang dilakukan oleh mahasiswa Universitas Jember. Bahkan, Desa Bulu Cindea mewakili Provinsi Sulawesi di ajang lomba desa wisata,” imbuh Moh. Hasan. 


Maka, bukan tidak mungkin nantinya Burno akan dapat mewarisi cerita manis ini di masa yang akan datang, dan awal jalan Burno menjadi idola bagi wisatawan yang berkunjung ke Lumajang dan gunung Semeru pada khususnya. Namun, bukan berarti tugas dari Universitas Jember bisa dikatakan selesai usai sekedar memberikan pelatihan kepada masyarakat tersebut. Pasalnya, konsep wisata berkesinambungan bukan sekedar mengerjakan program dari atas ke masyarakat bawah. Pemberdayaan masyarakat harus dikedepankan dalam kegiatan ini sehingga kegiatan dilaksanakan oleh Universitas Jember Kampus Lumajang ini benar-benar bisa bertahan lama, bahkan kalau bisa menjadi budaya bagi masyarakat.


Seyogyanya, program ini bisa merasuk hingga menjadi keseharian kepada seluruh warga Desa Burno yang memiliki jumlah penduduk mencapai 4.720 jiwa dengan mayoritas bermata pencaharian sebagai petani dan peternak. Jika hanya sekedar program biasa, maka usai selesai pelaksanaannya akan segera dilupakan oleh masyarakat. Padahal, program membangkitkan dunia wisata di Lumajang ini adalah program panjang yang berkesinambungan dengan harapan benar-benar menjadi wujud nyata di masyarakat.


Menilik yang dilakukan oleh Banyuwangi, mereka baru menikmati perubahan revolusi dunia wisatanya setelah minimal lima tahun berjuang. Di awal-awal lebih banyak perjuangan. Oleh karena itu, bukan hanya sekedar program tiga bulan yang akan menguap begitu saja jika tidak benar-benar tertanam betul di hati masyarakat. Perlu ada usaha bersama untuk menggugah kesadaran bersama bahwa ini merupakan pemberdayaan yang harus benar-benar dilakukan oleh masyarakat. Perlu ada kesadaran dari masyarakat untuk ikut berjuang bersama mewujudkan mimpi menjadikan Burno menjadi idola wisata di masa yang akan datang. Bukan hanya sekedar jalan numpang lewat bagi para wisatawan. Masyarakat harus bekerja keras dengan segala kekuatannya sendiri untuk menjadikan hal ini nyata. Karena seyogyanya yang dilakukan oleh Universitas Jember hanya sebagai pengungkit saja. Yang menjalankan di lapangan adalah masyarakat sendiri.


Semua pihak harus bisa memastikan bahwa para pelancong ini benar-benar singgah dan menikmati potensi wisata di Desa Burno ini. Semua pihak khususnya masyarakat Burno bukan hanya berharap sentuhan ‘midas’ Unej dalam pemberdayaan saja. Tetapi, seluruh civitas akademika Unej dengan mobilitas yang tinggi juga merupakan senjata tersembunyi untuk meledakkan nama Burno ke luar daerah termasuk mancanegara. 


Hal itu bukan tidak mungkin akan semakin banyak mendatangkan wisatawan untuk datang ke Burno dan menikmati wisata yang ada di Desa Burno Lumajang. Dengan demikian, dipastikan wisatawan berbelanja di Burno dan tentunya masyarakat akan menikmati dengan peningkatan kesejahteraannya. Semoga saja, nantinya Burno mendunia dan masyarakatnya menjadi lebih sejahtera. Semua akan menjadi mungkin, jika ada niat dan kerja keras bersama untuk mewujudkannya.


*) Penulis adalah Direktur kabar24.id

Reporter : Artikel
Editor : Artikel

Komentar Anda